Malam itu di sebuah perkemahan Monrest yang tersembunyi di sisi timur pulau, seorang pria bernama Koren berdiri di depan lingkaran kecil prajuritnya. Sorot api unggun yang menari-nari mempertegas wajahnya yang keras dan penuh kesombongan. Koren adalah salah satu bawahan setia Ruvan, seorang prajurit tangguh yang selalu berusaha memenangkan perhatian atasannya dengan cara apa pun.

Di depannya, seekor makhluk mutasi raksasa sebesar beruang berdiri dengan tubuh yang terlihat seperti perpaduan antara reptil dan serigala. Sisik hitam mengkilat melapisi tubuhnya, sementara taringnya yang panjang meneteskan cairan hijau beracun.

Koren mengusap kepala makhluk itu dengan gerakan penuh dominasi, matanya menatap tajam ke arah prajuritnya. "Kita telah menunggu terlalu lama. Ruvan menginginkan hasil, dan aku tidak akan kembali dengan tangan kosong."

Salah satu prajurit, seorang pria muda dengan wajah gugup, berbicara dengan hati-hati. "Tapi, Koren... mereka selalu berpindah tempat. Jebakan mereka sulit ditembus. Kita kehilangan banyak orang dalam setiap percobaan menangkap mereka."

"Itulah yang membuat mereka berpikir mereka aman," geram Koren, memutar tubuhnya dengan cepat untuk menghadapi prajurit itu. "Suku Uksa tidak lebih dari serangga kecil yang suka bermain dengan tali-tali bodoh dan lubang-lubang kecil. Kali ini, kita akan menunjukkan kepada mereka bahwa permainan mereka tidak berarti apa-apa."

Koren melangkah ke tengah lingkaran, membentangkan tangannya seperti seorang pengkhotbah gila. "Bayangkan saja," katanya dengan suara melengking penuh semangat. "Desa mereka hancur. Jebakan mereka terkoyak. Anak-anak mereka berteriak ketakutan, dan wanita mereka... Ah, wanita mereka... Aku akan memastikan mereka menikmati waktu terakhir mereka sebelum kita selesaikan semuanya."

Tawa kecil dari beberapa prajurit terdengar, meskipun sebagian dari mereka tampak ragu dan tidak nyaman.

Koren melanjutkan, wajahnya kembali serius. "Ruvan menginginkan mereka yang masih hidup. Kita akan menangkap mereka untuk percobaan atau pengorbanan. Tapi sebelum itu, kita akan membuat mereka tahu siapa yang menguasai pulau ini. Lepaskan makhluk itu!"

Seorang prajurit bergerak maju, membuka rantai besar yang menahan makhluk mutasi itu. Dengan geraman rendah yang menggetarkan tanah, makhluk itu mulai bergerak, matanya bersinar merah di tengah kegelapan. Langkahnya berat, menciptakan jejak dalam tanah lembap saat ia melangkah ke dalam hutan.

Koren tersenyum puas. "Biarkan dia menemukan mereka. Kita akan memantau dari jauh dan memastikan mereka tidak punya jalan keluar."

Keesokan harinya di perbukitan dekat desa Uksa, sementara Lynx dan Narendra bertanding, sekelompok pemburu sedang memeriksa jebakan mereka. Setiap hari mereka akan memeriksa dan memasang berbagai jebakan untuk menangkap hewan, mereka juga membuat jebakan untuk mencegah musuh datang menyerang mereka. Setidaknya jebakan ini akan menghambat musuh sehingga suku Uksa mempunyai waktu untuk  melarikan diri.

"Lihat, kita berhasil mendapatkan rusa besar. Kita bisa gunakan untuk acara pesta nantinya." Kata salah seorang pemburu.

"Kamu benar, hasil buruan kita setiap hari lumayan banyak. Tapi kita harus hati-hati, suku Monrest bisa ada dimana saja," jawab salah satu temannya.

Tiba-tiba saja saat mereka sedang berusaha memindahkan rusa yang terjerat , mereka mendengar suara geraman keras yang aneh, sehingga mereka bersiap-siap dengan senjata tombak mereka.

Semua pemburu berhenti bergerak. Mata mereka terpaku ke arah suara itu. Perlahan, dari balik pepohonan, muncul sesosok makhluk raksasa dengan mata merah menyala. Sisiknya berkilauan di bawah cahaya rembulan, dan taringnya yang besar meneteskan cairan beracun.

Makhluk itu mengaum, dan dalam sekejap, ia menerjang salah satu pemburu yang terlalu dekat. Tubuh pria itu terkoyak sebelum ada yang bisa bereaksi.

"Awas! Waspada, monster!" teriak salah seorang pemburu, mundur dengan wajah penuh ketakutan.

Makhluk mutasi mendekati rusa yang berusaha melarikan diri namun terjerat tali. Dalam sekali terkam, pada badan rusa langsung terlihat bekas gigitan besar yang menghilangkan sebagian besar dagingnya. Rusa tersebut langsung mati terkena gigitannya.

"Kita harus kembali ke desa!" teriak pemburu lainnya.

Namun, salah satu pemburu, seorang pria kekar bernama Ranu, melangkah maju dengan tombak di tangannya. "Tidak. Jika kita lari, dia akan mengikuti kita ke desa. Kita harus melawannya di sini."

"Melawan?" Salah satu pemburu bernama Orun menatap Ranu dengan tidak percaya. "Kita bahkan tidak tahu bagaimana membunuhnya!"

"Kalau begitu, kita tahan dia cukup lama sampai yang lain datang membantu," jawab Ranu. "Orun, kau kembali ke desa. Beritahu mereka apa yang terjadi."

Orun ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk dan mulai berlari ke arah desa. Namun sebelum melarikan diri, Orun sempat berbalik untuk melihat situasi. Jika memang memungkinkan tanpa memanggil bantuan, dia akan ikut bertarung.

Ranu dan pemburu lainnya bersiap melawan makhluk itu, meskipun mereka tahu peluang mereka sangat kecil. Tombak pertama melesat ke arah makhluk itu, tapi hanya memantul dari sisiknya yang keras. Makhluk itu menggeram marah, menerjang ke depan dan menjatuhkan salah satu pemburu ke tanah.

"Bawa dia ke jebakan besar!" teriak Ranu.

Mereka mulai bergerak mundur, memancing makhluk itu ke arah salah satu jebakan terbesar mereka. Ketika makhluk itu akhirnya mencapai jebakan, Ranu menendang mekanisme penguncinya. Tanah di bawah makhluk itu ambruk, memperlihatkan lubang besar yang penuh dengan kayu runcing.

Namun, ketika makhluk itu jatuh, tubuhnya yang besar hanya membuat kayu runcing patah tanpa melukainya. Ia melompat keluar dari jebakan dengan mudah, menyerang lagi dengan kebrutalan yang mengerikan.

Orun segera berbalik menuju desa. Dia menyesali kenapa menunda keberangkatannya.

Sementara itu, satu per satu, pemburu mulai jatuh. Ranu mencoba yang terbaik untuk mengalihkan perhatian makhluk itu. Tapi cakarnya akhirnya menghantam Ranu, melemparkannya ke tanah dengan luka parah.

Dengan nafas terengah-engah, Ranu menatap makhluk itu yang perlahan mendekat, matanya penuh dengan kebencian. "Semoga desa kita siap untukmu…" gumamnya sebelum pandangannya menjadi gelap.

Makhluk itu mengaum lagi, menghadapi para pemburu yang masih tetap bertahan. "Ranu!" Teriak mereka bersamaan, saat melihat jasad Ranu yang di injak oleh makhluk tersebut.

Sementara itu di kampung Uksa, rintangan kedua baru selesai dan akan memasuki rintangan ketiga, lari estafet, suasana penuh tawa dan ejekan banyak terdengar.

Lynx berdiri di samping Narendra, melihat dua orang yang sebelumnya membuat janji jika Lynx bisa menang. Sementara kedua orang yang merasa di lirik oleh Lynx segera menundukkan wajah dan berniat sembunyi ke belakang.

Melihat gerakan meeka yang hendak melarikan diri, Lynx segera berkata, "perlombaan ketiga ini tidak akan kita lanjutkan sebelum kita menyelesaikan satu hal terlebih dahulu."

Para penonton dan Narenda memandang Lynx dengan sorot mata kebingungan." Apa maksudmu?" Tanya Narendra.

"Pasti dia ingin menyerah." Teriak salah satu penonton.

"Hanya beruntung saja dia bisa memenangkan lomba pertama dan kedua. Pasti dia sudah tahu tidak akan bisa menang di lomba berikutnya." Kata yang lainnya.

Narendra yang mendengar omongan penonton menyeringai, melirik Lynx."Kali ini, kau pasti kalah," katanya. "Lari estafet di perbukitan adalah keahlianku. Kau tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan seperti sebelumnya."

"Sampai sekarang aku tidak merasa butuh keberuntungan," balas Lynx dengan senyum kecil.

"Aku hanya ingin tahu, bagaimana pertanggung jawaban kedua orang yang tadi berjanji akan memakan tanah dan berlari keliling kampung telanjang jika aku menang." Jawab Lynx sambil melirik kedua orang suku Uksa yang ingin melarikan diri.

Mendengar kata-kata Lynx, semua mata memandang ke mana arah tatapan mata Lynx dan melihat dua orang pria yang sedang berusaha pindah ke barisan belakang.

Merasa orang-orang memperhatikan mereka, akhirnya salah satu berkata, "Kami tidak akan ingkari janji, tapi kalahkan dulu Narendra. Pertandingan belum selesai."

"Betul, pertandingan belum selesai. Jika menang semua pertandingan, baru aku akan melakukan apa yang sudah kukatakan jika kamu memang bisa menang," jawab pria yang satunya dengan ekpresi marah sekaligus malu.

"Baik, akan kupegang kata-kata kalian. Seluruh penduduk Uksa bisa menjadi saksi tentang kata-kata mereka" Jawab Lynx. Lalu dia memandangi wilayah perbukitan tempat mereka akan melakukan pertandingan berikutnya.

Kanha, yang duduk di sebuah batu, ikut menimpali dengan cengiran lebar. "Ayo, Kak Narendra! Hancurkan dia kali ini! Jangan beri kesempatan!"

Namun, suasana riang itu mendadak berubah ketika suara teriakan keras datang dari arah hutan.

"Makhluk mutasi! Mereka menyerang!"

Semua orang langsung terdiam. Seorang pemburu berlari tergesa-gesa ke tengah kerumunan, wajahnya penuh keringat dan darah. Nafasnya tersengal-sengal saat ia mencoba berbicara.

"Mereka menyerang di dekat sungai! Makhluk besar! Ranu dan beberapa orang lainnya mencoba menahan makhluk itu, tapi monster itu sangat kuat dan besar!"

Wajah Narendra langsung serius. Ia melangkah maju, tangannya mengepal di gagang tombaknya. "Berapa banyak?"

"Hanya ada satu," jawab pemburu itu, terengah-engah. "Tapi jauh lebih besar daripada makhluk yang pernah kita lihat sebelumnya. Makhluk itu menghancurkan jebakan kita seperti tidak ada apa-apanya!"

Penduduk mulai berbisik dengan ketakutan. Kepala suku Uksa berdiri dari tempat duduknya, wajahnya tegang. "Narendra, kumpulkan para pemburu. Kita harus menghentikan mereka sebelum mereka mencapai desa."

Narendra mengangguk tegas. Ia berbalik ke arah para pria bersenjata yang berdiri di dekatnya. "Bawa tombak dan jaring! Siapkan jebakan besar! Kita tidak punya waktu banyak!"

Ia kemudian menoleh ke Kanha, yang terlihat cemas. "Kanha, tetap di sini. Jangan ke mana-mana."

"Tapi Kak—"

"Diam di sini," potong Narendra dengan nada tegas. "Makhluk ini sangat berbahaya, kekuatanmu belum bisa memberikan bantuan apa-apa, justru hanya akan membebani."

Kanha mengepalkan tinjunya, jelas ingin membantah, tapi ia tahu ini bukan saatnya untuk membantah kakaknya.

Narendra dan beberapa pria lain mulai bergerak menuju hutan. Lynx melangkah maju. "Aku ikut. Mungkin aku bisa membantu."

Narendra ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi jangan menjadi beban."

Lynx tersenyum tipis. "Aku tidak akan," katanya sambil bergerak menyusul.

Ketika mereka tiba di tepi sungai, pemandangan itu benar-benar kacau. Makhluk mutasi berukuran besar sedang mengamuk. Makhluk itu memiliki tubuh besar seperti beruang, tetapi dengan kulit keras seperti batu.

Beberapa pria Uksa sudah terluka dan tergeletak di tepi sungai. Yang lain berusaha menahan makhluk itu dengan tombak dan jebakan, tetapi mereka kewalahan.




